MEMPERKUAT YOGYAKARTA SEBAGAI PROVINSI KOPERASI

Bagaimana pertumbuhan dan perkembangan koperasi di Indonesia sampai hari ini?
Koperasi sering diakui sebagai soko guru bangsa Indonesia, merupakan penopang bangun ekonomi negara. Namun bagaimana sesungguhnya kondisi dan masa depan koperasi kita ?

Pada hari Selasa, 30 April 2019 bertempat di Ruang Rapat 3 Dinas Koperasi UKM DIY diselenggarakan Focused Group Discussion (FGD) tentang rancngan menjadikan Yogyakarta sebagai Propinsi Koperasi. FGD dihadiri unsur Dinas Koperasi tingkat propinsi dan juga kabupaten kota, serta mengundang pula kalangan akademisi dan sejumlah komunitas seperti ABDSI dan Dekopin DIY.

Hadir sebagai pemantik diskusi adalah Dr. Revrisond Baswir dari Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM. dalam paparannya, salah satu Ahli dalam judicial review UU Koperasi yang lalu ini menyampaikan bahwa amanat konstitusi bagi bangsa ini adalah untuk menjalankan Demokrasi Ekonomi. sebagaimana tertulis dalam pasal 33 ayat 1 UUD 1945. Lebih lanjut Sony juga menjabarkan ada 3 kata kunci dalam memahami jatidiri koperasi Indonesia, yaitu:

Demokrasi Ekonomi
Filosofi sosioekonomi yang bertujuan untuk memindahkan kekuatan dari tangan pemilik modal (saham) kepada kelompok masyarakat yang lebih luas. Dengan demikian Koperasi dari sejarah dan filosofinya merupakan gerakan dan entitas Anti Kapitalisme. Sebagaimana dituliskan bapak Koperasi, “Perhubungan buruh dan majikan seperti dalam masyarakat kapitalisme tidak akan ada lagi dalam koperasi. Buruh adalah keluarga, pimpinan dan buruh keduanya sama-sama pekerja, harus ada rasa harga menghargai, cinta mencintai seperti keluarga” (Hatta, 1946)

Azas Kekeluargaan
Azas kekeluargaan itu ialah koperasi. istilahnya berasal dari Taman Siswa, untuk menunjukkan bagaimana guru dan murid-murid yang tinggal padanya, seperti itu pulalah hendaknya corak koperasi Indonesia (Hatta, 1977). Azas kekeluargaan bukan tentang hubungan suami istri, atau orang tua dan anak, melainkan hubungan guru dan murid yang fokus pada “Ilmu”. Dengan kata lain, azas kekeluargaan sebagai prinsip koperasi bukan soal materi, barang, keuntungan, atau bisnis semata, melainkan pola hubungan yang berbasis manfaat dan ilmu. Masih menurut Sony, koperasi adalah wujud Anti Materialisme.

Baca Juga:  Potret Masalah dan Solusi UMKM di India

Prinsip Ekonomi

Koperasi adalah kumpulan orang otonom yang bertemu dalam kesamaan kebutuhan ekonomi, sosial, dan budaya sebagai aspirasi melalui sebuah democratically-controled Enterprise. Nilai atau value yang dibangun dalam koperasi meliputi : self help, self responsibility, democracy, equality, equity dan solidarity.

Prinsip Koperasi sesuai dalam Guidances Notes to the Co-operative Principles yang diterbitkan oleh ICA, 2015 :

  1. Keanggotaan Sukarela dan Terbuka
  2. Pengendalian secara demokratis oleh anggota
  3. Partisipasi ekonomi anggota
  4. Otonomi dan independen
  5. Pendidikan, Pelatihan, dan Informasi
  6. Kerjasama Antar Koperasi
  7. Peduli terhadap Masyarakat

Cita-cita koperasi Indonesia adalah menentang individualisme dan kapitalisme secara fundamental. Paham koperasi Indonesia menciptakan masyarakat indonesia yang kolektif, berakar pada adat istiadat hidup Indonesia yang asli, tetapi ditumbuhkan pada tingkat yang lebih tinggi sesuai dengan tuntutan jaman modern (Hatta dalam Swasono dan Rijal, 1985).

Kalau dipahami benar-benar bahwa koperasi itu adalah usaha bersama maka semestinya aktivitas koperasi yang dikerjakan secara bersama-sama oleh semua anggota. Kooperasi tujuannya yang utama bukan mencari keuntungan, tetapi menyiapkan keperluan hidup bersama. Keuntungan hanya terbawa sebagai akibat dalam melaksanakan usaha, bukan tujuan utama.